Pustakawan UB Lolos Call for Papers Dies Perpustakaan Universitas Airlangga ke-62

Pustakawan UB kembali berkarya di kancah nasional, kali ini Pustakawan UB lolos dalam Call for Papers dalam rangka Dies Perpustakaan Universitas Airlangga ke-62. Adapun Pustakawan UB yang lolos dalam Call for Papers PUA 2017 antara lain: Dra. Widia Permana, S.Sos, M.AB, Suprihatin, SIP.,MA, Prayoga Rizki Wikandani, S.AP dan Maria Desi Swista Dewi, SPd, S.Hum yang menulis karya ilmiah berjudul: “Efektivitas Kegiatan Open House sebagai Sarana Promosi Perpustakaan Universitas Brawijaya” dan Kurniasih Yuni Pratiwi, S.Sos yang menulis karya ilmiah berjudul: “Analisis Peran Perpustakaan Universitas Brawijaya dalam Mewujudkan Gerakan Literasi Informasi Digital”.

Presentasi karya ilmiah mereka diadakan pada tanggal 3 Mei 2017 di Ruang Diamond Swiss Belinn Hotel, Jl. Manyar Kertoarjo, Surabaya. Jumlah peserta yang melakukan presentasi adalah 35 peserta yang berasal dari seluruh Indonesia.

Bersamaan dengan acara tersebut, juga diselenggarakan Seminar dan Workshop Nasional yang bertajuk “Perpustakaan dan Pustakawan Inovatif Kreatif di Era Digital”. Adapun yang menjadi pembicara antara lain: Drs. Ida Fajar Priyanto, MA. Ph.D membawakan materi: “Membongkar Mindset Pustakawan Indonesia”, Faizuddin Harliansyah, MIM membawakan materi: “ Eksplorasi Titik Singgung antara Literacy dan Scholarly Communication” dan Prof. H. Hery Purbobasuki. M.Si., Ph.D. membawakan materi: “Urgensi Peran Pustakawan dalam Menumbuhkan Publikasi Ilmiah di Indonesia”.

Pada hari kedua berlangsung workshop dengan 3 pembicara antara lain: Amirul Ulum, S.Sos., M.IP membawakan materi: Workshop Literasi Informasi: Pengenalan Literasi, Chandra Pratama Setiawan, SIP dan Prasetyo Adi N., S.Sos membawakan materi: Strategi Penelusuran Informasi dan terakhir adalah Vincentius Widya Iswara, S.S. membawakan materi Pemanfaatan Reference Manager (Mendeley).

Ida Fajar Priyanto dalam materinya menuturkan bahwa Perpustakaan Indonesia mengalami 4 revolusi yang seiring sejalan dengan kemajuan zaman dan teknologi. 4 revolusi Perpustakaan Indonesia itu antara lain: Revolusi I: Collection-Centric, Revolusi II: User-Centric, Revolusi III: Digital Shift dan Revolusi IV: Extended Roles. Sebagai pustakawan dituntut untuk dapat memahami pergeseran sumber dan melakukan Knowledge Mobilization, memahami industri informasi dan sudah seharusnya diikuti dengan awareness dan perubahan cara pandang pustakawan.

Faizuddin Harliansyah lebih menyoroti 7 pilar literasi informasi yang diterbitkan oleh Society of College National and University Libraries (SCONUL) tahun 1999, kemudian dikembangkan menjadi standard kompetensi literasi informasi oleh Association of College and Research Libraries (ACRL) tahun 2000 merupakan standar kompetensi yang harus dimiliki oleh pustakawan dalam melakukan literasi informasi.

Hery Purbobasuki menyampaikan bahwa fernomena yang terjadi perkembangan ilmu saat ini semakin cepat baik ragam isi maupun media, sehingga tuntutan pemakai semakin beragam pula,  informasi bukan seperti gudang namun seketika just in time meledak seperti pasar. Hal ini merupakan tantangan bagi pustakawan bahwa kepemilikan informasi bukan lagi penting namun akses informasi yang sangat berperan. Pustakawan seharusnya bersinergi dengan dosen dalam pengembangan penelitian dan akademik, dicontohkan jurnal terindeks Scopus. Pustakawan tidak lagi sebagai penjaga buku namun sebagai garda ilmu pengetahuan.

Pustakawan sebagai bagian dari Scholarly dan Scientific Lifecycle harus mampu berbaur dan “merasa” sederajat dengan profesi terkait sehingga tidak terbentuk image sebagai kelompok khusus yang steril. Selain itu pustakawan harus memiliki kemampuan sebagai pendukung siklus pengetahuan dan ilmiah, harus mampu menjadi pelaku siklus, mampu meneliti dan menulis ilmiah, mampu menulis dengan bahasa awam di media cetak/elektronik dan terakhir mampu mengenali arah perkembangan keilmuan (science mapping).

Latest posts by Ihwan Hariyanto (see all)

%d bloggers like this: