Workshop Service Excellent:Upaya Peningkatan Layanan Perpustakaan

Perpustakaan Universitas Brawijaya bekerjasama dengan Putera Sampoerna Foundation menyelenggarakan workshop bertemakan “Service Excellent: Dalam Upaya Peningkatan Layanan Perpustakaan” yang berlangsung pada Selasa (18/2). Workshop diikuti oleh 75 orang yang terdiri dari pustakawan Perpustakaan UB, pengelola Ruang Baca di lingkungan Universitas Brawijaya serta karyawan perpustakaan SMA Brawijaya Smart School.

“Adapun tujuan dari workshop ini yaitu membekali kepada pustakawan yaitu pengetahuan, keterampilan, berperilakau yang baik serta mampu berkomunikasi dengan baik dalam melayani pengguna di Perpustakaan UB” ujur Agung Suprapto selaku Ketua Panitia.

“Target dari workshop ini adalah peserta mampu mengimplementasikan etika layanan, peserta mampu berkomunikasi dengan baik, peserta mampu mengembangkan diri sesuai dengan profesi pustakawan dan peserta mampu percaya diri dalam melayani pengguna,” ujarnya.

Acara dibuka oleh Mamik Eko Supatmi selaku perwakilan dari kepala Perpustakaan UB. Mamik menyampaikan bahwasanya kita berharap dengan adanya workshop ini bisa memberikan layanan terbaik bagi pengguna, dapat menjadi teman bagi teman kita, serta dapat memberikan kontribusi kepada lembaga kita Universitas Brawijaya.

“Acara service excellent sudah pernah dilakukan sebelumnya, akan tetapi untuk lebih me-refresh dan memperbaiki lagi untuk karyawan yang pernah mengikuti acara ini dan terutama bagi karyawan yang baru pertama kali mengikuti acara seperti ini. Tujuan dari acara ini adalah selalu memberikan yang terbaik terhadap pengguna Perpustakaan UB,” ungkapnya.

Acara kemudian dipandu oleh Akh. Muwafik Saleh, S.Sos, M.Si menggunakan simulasi berupa permainan. Permainan pertama peserta diberikan selembar kertas kemudian menuliskan sikap orang lain yang tidak kita sukai, artinya apa yang kita lakukan kepada orang lain maka itulah yang akan kita dapatkan dan belajarlah melihat dari sudut pandang orang lain. Kemudian peserta membentuk lingkaran dan melemparkan kertas (di buat bola) kepada teman disebelah kanan mereka, jika kertas tersebut banyak yang jatuh maka kita belum bisa memberikan sepenuh hati. Pesan yang tersirat dari permainan ini adalah fokuslah memberikan yang terbaik kepada orang lain maka kita akan mendapatkan hal yang  jauh lebih baik.

Pada sesi kedua juga dilakukan permainan, para peserta di minta menjadi tiga kelompok dan menunjuk ketua kelompok. Setiap ketua kelompok diberikan instruksi untuk melewati kotak-kotak mulai dari kotak start sampai finish yang mana sebagian kotak diberi ranjau yang tidak boleh dilewati oleh peserta. Apabila peserta telah menginjak ranjau, seharusnya peserta selanjutnya tidak melakukan hal yang sama. Inti dari permainan ini adalah komunikasi yang baik antara pemberi instruksi, ketua kelompok serta anggota kelompok yang menjalankan agar dapat melewati segala rintangan yang ada.

Prinsip layanan pada umumnya berupa kecepatan, ketepatan dan keramahan dalam memberikan pelayanan, kenyamanan serta keamanan selama berada di tempat pelayanan tersebut. Komunikasi pelayanan publik terdiri dari 3 aspek yaitu : Communicator PerformanceImage (physical performancepsychologycal performanceverbal expression), Multiple Image/Front Office Image (uniform (seragam) para front liner, sosok gedung, dekorasi  lobby kantor, atribut,  dan lain sebagainya), dan  Institution / Corporate Image (alur dan prosedur layanan, handling complaint management, publikasi lembaga). Inti dari komunikasi adalah persepsi, dimana persepsi seseorang dipengaruhi oleh pengetahuan, pengalaman, dan beragam informasi lainnya. Bagaimana cara kita berinteraksi, berkomunikasi dan menanggapi orang lain, mempengaruhi pada bagaimana orang lain mempersepsi dan merespon diri kita.

Mari kita tinggalkan jejak kebaikan dimanapun kita berada, kita baru di anggap ada selama hidup setelah meninggalkan jejak. Gajah mati meninggalkan gading, harimau mati meninggalkan belang, manusia mati meninggalkan kebaikan. Orang yang tidak meninggalkan jejak kebaikan sama halnya manusia tersebut tidak hidup. Mari belajar melayani dengan sepenuh hati, melayani menjadikan ibadah kita dan melayani untuk meninggalkan jejak kebaikan. Bila kita ingin dilayani dengan baik, maka orang lainpun ingin dilayani dengan baik pula.

Acara ini ditutup oleh Widia Permana. Widia berharap semoga acara ini dapat memberikan manfaat kepada seluruh peserta dan memberikan semangat untuk berbuat lebih baik untuk institusi kita bersama. [Anisti/D-Khoir]

%d bloggers like this: