Interlibrary Loan yang diterapkan di perpustakaan UB

Materi ini disampaikan oleh Drs. Johan A.E. Noor., M.Sc., Phd., Kepala Perpustakaan Universitas Brawijaya. Berawal dari pengalaman pribadi ketika sekolah di Australia, memerlukan buku di perpustakaan tetapi buku tersebut tidak dimiliki. Seminggu kemudian buku tersebut datang karena perpustakaan di Australia sudah menerapkan system interlibrary loan. Hal tersebut sangat memudahkan mahasiswa dalam mendapatkan segala informasi yang dibutuhkan. Karena itu, interlibrary loan akan sangat bermanfaat bila diterapkan di Indonesia terlebih dengan adanya IOS yang dapat memfasilitasi program tersebut.

Interlibrary loan merupakan layanan di mana pemustaka suatu perpustakaan dapat meminjam bahan pustaka yang dimiliki oleh perpustakaan lain untuk waktu yang pendek. Layanan ini terdiri dari interloan/interlending (cetak), dan document delivery/document supply (file).

Sejarah Interlibrary loan ada sejak abad ke-17 oleh Nicolas Claude Fabri de Peiresc antara Royal Library di Paris dengan Perpustakaan Vatikan dan Barberini di Roma (Gravit,1946). Merupakan seorang yang memiliki pendidikan di bidang hukum dan anggota parlemen di Provence, Prancis. Dia merupakan orang yang memiliki pengaruh dan terkenal di Eropa semasa hidupnya. Melalui beberapa kegiatan baik dari pekerjaannya, perjalanannya, dan kegiatan ilmiahnya, dia sering menjadi perantara antara ilmuwan asing yang ingin meminjam materi, manuskrip asli, dari berbagai perpustakaan di seluruh Eropa. Inilah yang menjadikan Peiresc menciptakan suatu system pinjaman antara Paris dan Roma.

Kemudian pada tahun 1967 interlibrary loan diproses melalui system teletype dan tidak berlangsung lama karena suku cadang yang sulit didapat. Pada tahun 1990 berkembang dengan menggunakan email dan tahun 2000 menggunakan world wide web.

Hal yang perlu diperhatikan sebelum menerapkan interlibrary loan yakni kebijakan yang harus direncanakan dengan baik. Kebijakan tersebut terkait dengan bahan pustaka apa saja yang disediakan untuk interlibrary loan, siapa yang dapat meminjam, berapa banyak yang boleh dipinjam, bagaimana pemrosesannya, biaya, waktu peminjamannya, bagaimana jika hilang, dan sebagainya. Setelah itu disepakati bagaimana prosedur yang akan diterapkan. Interlibrary loan juga harus mengikuti standar ISO 10160:1997 tentang Information and Documentation – Open Systems Interconnection – Interlibrary Loan Application Service Definition, dan ISO 10161:1997 tentang Information and Documentation – Open Systems Interconnection – Interlibrary Loan Application Protocol Specification.

Sudah banyak negara yang di Asia yang menerapkan interlibrary loan ini, seperti Malaysia, Singapura, Thailand, Filipina, Vietnam dan lain-lain. Kendala yang dihadapi di negara Indonesia terutama pada system jaringan informasi dan budaya pemustaka. Karena itu, diharapkan dengan adanya IOS Indonesia dapat menerapkan interlibrary loan dengan mudah. Rencana penerapan dimulai dari Malang Interlibrary Loan (MILL), dilanjutkan dengan skala yang lebih besar lagi yakni Jawa Timur Interlibrary Loan (JaTILL) dan skala yang paling besar yakni Indonesia One Search for All/ IOS4ALL (Indonesia OneSearch for ALL). (Christinia Minarso)