Perpustakaan sebagai Repositori Institusi Digital

Ilmu pengetahuan dan teknologi yang dihasilkan oleh perguruan tinggi dan disimpan di perpustakaan sangatlah strategis. Perpustakaan merupakan jembatan media antara produsen iptek (dosen dan mahasiswa) dengan masyarakat ilmiah dan masyarakat umum. Saat ini UB telah membangun knowledgegarden yang berfungsi untuk menyebarluaskan ilmu pengetahuan (hasil penelitian) ke masyarakat. Dan hasil riset yang dipublikasikan melalui perpustakaan, dapat bermanfaat bagi pengembangan iptek.
Perpustakaan sebagai Repositori Institusi Digital
Sulistyo Basuki  menuturkan, kekayaan lokal di tingkat perguruan tinggi (PT) berupa buku, karya akhir mahasiswa, artikel jurnal, laporan penelitian, makalah pertemuan ilmiah, berbagai literatur kelabu (disertasi, pidato pengukuhan guru besar), paten, dan materi pembelajaran elektronik. Kekayaan local itu umumnya disimpan di perpustakaan universitas. Kesulitan yang dihadapi perpustakaan PT menyangkut fungsi penyimpanan ialah penyimpanan karya tulis dosen. Pengalaman di lapangan menunjukkan, banyak dosen enggan menyerahkan karya tulisnya ke perpustakaan PT sehingga koleksi perpustakaan tidak selalu mencerminkan karya intelektual lokal sebuah universitas. Penyimpanan yang dilakukan perpustakaan bisa berupa format digital maupun hard copy.
Adanya tuntutan menjadi universitas kelas dunia, menuntut perpustakaan untuk menjadi repositori institusi digital yang memungkinkan semua kekayaan intelektual lokal dapat diakses oleh berbagai mesin pencari. Keteraihan kekayaan intelektual lokal oleh mesin pencari ungkap Basuki, akan meningkatkan kenampakan universitas di dunia serta dapat dijadikan sebagai salah satu indicator pemeringkatan perguruan tinggi sebagaimana yang dilakukan misalnya oleh Webometric. Namun demikian menurut Basuki, upaya penyimpanan serta akses terbuka memerlukan kerjasama dengan pemangku kepentingan seperti rektor, penyediaan anggaran,metadata, interketeroperasian, pemanenan serta kesiapan pustakawan.

UB Harus Inovatif untuk Menuju UKD
Sementara itu dalam materinya yang berjudul “Kesadaran masyarakat akademik dalam memperkaya kekayaan intelektual lokal sebagai akselerasi menuju Universitas Kelas Dunia (UKD)”, Mochammad Al Musadieq dari UB menyatakan, sesuai visinya menjadi entrepreneurship university, UB harus berubah dari pola pikir what-is (apa yang ada) menjadi what-can-be (apa yang mungkin terjadi). Berubah dari pola pikir argumentatif menjadi pola pikir merancang. Untuk menjadi organisasi dengan visi masa dating, UB harus memiliki banyak perilaku misalnya, imajinatif (jangan dibatasi kenyataan tapi kemungkinan), spekulatif (berpikir berdasar asumsi dan intuisi), dan impulsive (ambil pada kesempatan pertama. Karenanya, Musadieq menyarankan agar kreatifitas setiap individu UB menjadi UB yang inovatif.[nun]

Butuh Bantuan ? Chat dengan Kami
%d bloggers like this: