(Indonesia) CERITA DIBALIK PREDIKAT CUMLAUDE

Sorry, this entry is only available in Indonesia. For the sake of viewer convenience, the content is shown below in the alternative language. You may click the link to switch the active language.

Lulus dengan Predikat Cumlaude menjadi salah satu tujuan mahasiswa setelah menempuh perkuliahan yang berwarna. Sebagian mahasiswa mungkin kuliah untuk mengambil manfaat ilmunya, sebagaian lagi bertujuan mendapatkan predikat cumlaude dan tidak sedikit juga mahasiswa yang kuliah karena keinginan orang tua. IPK 4 memang sempurna, namun bagaimanakah cara mendapatkannya? Yuk simak artikel berikut Sobat Pustaka.

Dr. Jatmiko Eko Witoyo, S.TP., M.P. (IPK 3.98) dan Aya Shofiyah, S.Si., M.Si (IPK 4) adalah putra putri lulusan terbaik Universitas Brawijaya periode II Tahun Akademik 2022/2023 Progam Vokasi, Sarjana dan Pascasarjana. Jatmiko lulus Program Doktor Teknologi Agroindustri dan Aya lulus Program Magister Biologi. Pria kelahiran Lamongan ini mengaku dirinya kaget sekaligus bangga dengan predikat cumlaude yang diperolehnya. Dalam kesehariannya, ia mengaku menjalankan rutinitas sebagai mahasiswa pada umumnya. Namun pandai membagi waktu adalah kunci dalam kesuksesannya, membagi waktu belajar, istirahat dan bersosialisasi.

Sama halnya dengan Aya, Wanita kelahiran Gresik ini mengaku dan tidak memilik target sebelumnya untuk menjadi lulusan terbaik. Aya mengambil jurusan yang ditekuninya karena termotivasi oleh banyaknya kanker payudara yang muncul dewasa ini dengan obat yang masih sedikit. Dengan begitu ia bisa menciptakan obat herbal yang nantinya bisa digunakan untuk penyembuhan obat kanker payudara.

Sedangkan motivasi Jatmiko termotivasi oleh Porang. Porang adalah umbi yang selain bisa dikonsumsi namun juga bisa digunakan sebagai pembuatan lem dan jelly, bahan baku tepung, kosmetik serta penjernihan air. Tanaman yang kaya akan kandungan karbohidrat, lemak, protein dan mineral ini masih dipandang sebelah mata, dan Jatmiko ingin menjadikan tanaman Porang memiliki nilai jual yang lebih tinggi dengan teknologi yang telah dipelajarinya mulai dari kuliah Sarjana, Magister hingga Doktor.

Mata Kuliah yang dirasakan paling sulit selama menempuh perkuliahan adalah Biologi Molekuler bagi Aya dan Perancangan Pabrik bagi Jatmiko. Kedua mata kuliah tersebut dirasa sulit karena merupakan mata kuliah yang runtut, sehinggan jika ada kesalahan di awal maka selanjutnya akan gagal. Untuk nilai dalam setiap mata kuliah, mereka berdua selalu mendapat nilai yang stabil dan terus naik.

Selain aktif dalam perkuliahan, Jatmiko dan Aya juga mendapat prestasi lain, Jatmiko pernah didanai oleh Kemenristek – Dikti dengan penelitian Pengembangan Proses Penepungan Chip Porang Menggunakan Micro Mill – Mesin Pemoles dan Roller Mill. Sedangkan Aya memenangkan medali perak pada Korea International Women’s Invetion Exposition Certificate serta Medali Perunggu pada International Invention & Innovative Competition.

Perubahan yang dialami saat perkuliahan adalah saat pandemi yang tidak bisa belajar mengajar seperti biasa, namun semua teratasi dengan dosen yang dengan mudah dihubungi saat hendak berkonsultasi serta perkuliahan yang hybrid sehingga tidak memutuskan semangat para Mahasiswa untuk menuntut ilmu. Selain itu Jatmiko dan Aya juga sering mengunjungi UPT Perpustakaan UB, selain untuk berdiskusi dan mencari referensi dari literasi cetak, mereka juga kerap mencari iterasi dari sumber lain yakni e–resources yang bisa dipakai untuk akses e-journal, e-book dan e-repository.

Harapan kedepan dari Jatmiko dan Aya adalah semoga Universitas Brawijaya semakin terdepan dalam kompetisi internasional baik secara pribadi maupun Institusi. Bagaimana Sobat Pustaka, menarik bukan?

Do you need help ? Chat with our librarian
%d bloggers like this: